Teknologi, Tutorial, Pengetahuan, Pendidikan

 
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Puisi Hidup Penuh Cobaan dan Tantangan

Hidup ini penuh tantangan..
Tak seorang pun yg hdup tanpa melewati tantangan itu..

Tp, Smua mereka bisa mlewatinya..
"Harapan dan semngatlah yg bsa mmbuat mreka bisa mlewatinya"

Dulu kamu pernah memberi ku secerca harapan dan segudang semangat.
Slalu mengajariku tuk selalu senyum dan bngkit dri keputus asaan...

Lalu,
Kenpa sekarang kmu malah tidak memiliki smua itu lagi..
Dimana dirimu yang dulu?
Dmana smngt mu yg dulu??
Dmn jati dirimu yg dlu?

Aku mngkin memang tidak mngenalmu trlalu jauh,
Tp aku tau kmu bukanlah org sprti itu..

Kembalilah ke jati dirimu yg dulu..
Aku tau itu cukup berat,
Tp, kenpa kmu harus putus asa sperti ini ??

Apa tidak ada lagi yg bisa membuat mu untuk bisa brtahan?
Lihatlah, semua orang membutuhkan dirimu...
Terlebih kedua orang tua mu..
Mereka sudah melakukan yg terbaik untuk drimu..
Lalu,
Apa itu tidak cukup untuk mmbuat mu selalu optimis untuk bertahan...
Bisa kah kmu byangkan jika kmu benar2 pergi dri hdpan mereka..?

Bngkitlah sahabat ku..
Lakukan yg terbaik bagi mereka...
Jgn biarkan mereka menangis darah krna kehilangan mu..

Walaupun, seandainya sesuatu yg buruk hrus trjadi..
Paling tidak, kmu sudah mlakukn yg trbaik kpd mereka...
Dan kmu pergi dengan senyuman, bukan dngan keputus asaan..

Bayngkan suatu yg trindah ..
Byangkan suatu kebahagian trjdi dalam hdupmu d msa yg akn dtg..

Satu hal lgi,
kmu belum membalas smua kebaikan kedua orang tuamu..
Jd, kmu hrus bertahan dan selalu bertahan untuk bisa melakukan semua itu..

Keep spirit..
Tak ada yg mustahil bagi diriNya..
Tuhan akan slalu mnyertai dirimu

#Special for my friend

Contoh Naskah Drama (Salahkan Saja Aku)

SALAHKAN SAJA AKU
Penokohan :
Habib = Dacun
Dino = Ihin
Tegar = Kuyud
Siti = Kepsek 
Temi = Ibu Rini
Aini = Ibu Ihin
Nurul  = Ibu Dacun
Rahmat = Oyon dan Tn. Kuyud




Diceritakan ada 3 sekawan bernama Dacun, Ihin, dan Kuyud. mereka berada di kelas pembuangan, yaitu kelas orang-orang yang tidak minat belajar. 
Pada suatu hari, akan dilaksanakan ulangan matematika. 
Dacun adalah satu-satunya dari mereka bertiga yang pintar, Ihin hanya pintar dalam 1 bidang musik, sedangkan Kuyud adalah orang yang sangat patuh pada perkataan Ibu nya.
Selesai ulangan nilai mereka kecuali Dacun sangat buruk, Ihin mendapat 4,1 dan Kuyud mendapat 3,4.
Dacun : “kalian ini, aku yakin nanti malam kalian akan diceramahi”
Ihin : “aku sudah terbiasa, lebih baik main gitar , Ibuku juga nanti diam.”
Kuyud : “apapun yang Ibuku katakana, aku akan menurutinya”
Ihin :”kalau Ibumu menyuruhmu memakan kotoran nya apa kau mau?”
Kuyud :” asalkan Ibuku yang menyuruh, kotoran pun pasti terasa enak”
Dacun dan Ihin merasa merinding
Tidak lama kemudian datang Oyon murid kelas unggulan 
Oyon : “hah 71 ?, kau 4,3. Ini lagi 3,4 ? nilai 7,1 itu paling kecil dikelasku, lihat ini 97.”
Ihin :” apa pedulimu ?hah ! “
Oyon : “cuih dasar orang-orang sampah !”
Dacun : “hey, apa maksudmu meludahinya ?”
Ihin : “kurang ajar, rasakan ini!”
Ihin lalu memukul Oyon, dan lalu orang-orang disekitar melapornya ke ruang kepala sekolah
Kepsek : “Ihin apa benar kau memukulnya ?”
Oyon : “ dia memukulku disini ! (sambil menunjuk pipinya yang bonyok”
Ihin : “dia meludahiku duluan bu”
Dacun :”aku saksinya , oyon meludahinya, dan Ihin terpancing emosi”
Kepsek :”setidaknya kau butuh dua saksi untuk mengelak”
Dacun & Ihin :”KUYUD ! “
Lalu Kuyud datang sambil menangis
Kuyud :”aku tidak melihat apa-apa”
Dacun & Ihin : “ACIIIIN ! 
Kuyud :”Ibuku bilang aku tidak boleh ikut campur”
Kepsek :”Baiklah Ihin, Ibu akan laporkan kau pada Ibumu”
Ihin :”yasudah terserah kau sajalah”
Kepsek :”apa kau bilang ?”
Dacun :”dia tak bilang apa-apa bu”
Kepsek :”baiklah, sekarang kalian boleh keluar”
Dirumah Ihin.....
Ibu Ihin :”apa yang Ibu dengar ini benar?”
Ihin :”apa?”
Ibu Ihin :”kau memukul Oyon kan ? Nilai ulangan matematika ku juga jeblok!”
Ihin :”benar, dia meludahiku bu ! masalah ulangan, aku memang tidak berbakat..hhe”
Ibu Ihin :”kau ini, kau harus belajar, kelas mu ini kelas pembuangan, kau masih saja bermalas-malasan, kali ini Ibu akan mengajarimu”
Ihin: “baiklah bu”
Ibu Ihin :”mana yang tidak kau mengerti?”
Ihin :”semuanya ...hihi”
Ibu Ihin :”baiklah, kita mulai dari yang ini, rumusnya ini di kalikan ini, lalu kau bagi dengan ini. Hasilnya kau kurangi dengan ini, kau mengerti ?”
Ihin hanya menggelengkan kepalanya.
Hari itu sampai larut malam Ibu Ihin mengajarinya
Keesokan harinya Ibu Ihin, Ibu Dacun dan Ibu Kuyud bertemu di supermarket dan lalu berbincang
Ibu Dacun :”aduuuh sayang sekali padahal kalau anaku dapat nilai 7.5 dia bisa lepas dari kelas pembuangan.”
Ibu Kuyud:” anaku malah jauh nilainya, tapi aku tidak khawatir, asalkan dia bisa mengurus perusahaan kelak, masa depan nya masih ada harapan”
Ibu Ihin :”anaku, sepertinya dia memang tidak berbakat, sepulang sekolah dia hanya bermain gitar. Aku tidak tahu harus berbuat apa, setiap malam aku mengajarinya. Tapi dia tetap tidak mengerti”
Ibu Dacun : “Lebih baik, bila dia dapat nilai buruk atau tidak mengerti saat di ajari, kau rotani saja dia suapaya kapok!”
Ibu Kuyud : “kalau aku sih puji saja dia, supaya lebih semangat”
Ibu Dacun:” ada-ada saja kau”
Ibu Ihin :” apa ? merotani nya ? aku tidak tega”
Ibu Dacun :”benar, lama kelamaan dia akan mengerti”
Ibu Ihin :”baiklah, akan kucoba”
Akhirnya Ibu Ihin menerapkan sara dari Ibu Dacun
Disekolah .....
Guru baru :” anak-anak, Kenalkan nama Ibu Rini, Ibu menggantikan Ibu Janah mengajarkan matematika kepada kalian”
Kuyud :” Apa Ibu janah dipecat ?”
Murid-Murid :” ahahahhahaa, dasar si tukang patuh, apa Ibumu yang yang menyuruhmu mengatakan itu ?”
Kuyud :”aku hanya penasaran, tiba-tiba saja dia menghilang lalu digantikan”
Ibu Rini:”beliau sedang cuti, selama dia cuti Ibu yang menggantikanya”
Kuyud :”ooooh”
Ibu Rini :” Ibu belum mengetahui kemampuan kalian dalam matematika, besok akan Ibu akan mengadakan ulangan “
Ihin :”apa?ulangan ? “
Ibu Rini :”Iya, apa ada masalah?”
Dacun :”Ihin ssst , mmm. Tidak ada apa-apa bu.”
Sepulang sekolah
Ihin :”heh cun, kamu kan pinter MTK, nanti kasi aku contekan ya!”
Dacun :”boleh-boleh, buat kalian gratis deh “
Ihin dan Kuyud :”SIP !”
Dirumah Ihin
Ibu Ihin :”hiinn, kau sudah belajar ? main gitar terus kau ini “
Ihin :”aku nggak ngerti bu, ga ada yg ngajarin “
Ibu Ihin :”kali ini Ibu serius, kau harus belajar, kalau tidak...”
Ihin :”kalau tidak apa bu?”
Ibu Ihin :” dengan berat hati Ibu akan merotanmu”
Plak ! Rotan dipukul ke tangan Ihin karena Ihin tidak mengerti mengerti.
Ihin :”sakit buuu”
Ibu Ihin :”makanya kau harus bisa!”
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK 
Setelah berhari-hari merotani Ihin, Ibu Ihin kelalahan dan sebenarnya dia tidak tega, dia pun jatuh sakit.
Keesokan harinya Ihin merasa tidak bersemangat sekolah, padahal hari itu akan ulangan.

Saat itu dikabarkan bahwa  Ibu Ihin mendertia kanker darah, dan harus segera mendapat donor cangkok sumsum tulang belakang.
Ihin :”Ibu ku sakit parah, kalau dia tidak menerima cangkok sumsum secepatnya umurnya hanya tinggal 3 bulan”
Dacun :”apa sudah ada pendonor yang cocok untuknya ?”
Ihin menggelengkan kepalanya
Ke 3 nya :”haaaah”
Lalu menundukan kepala mereka. Tiba-tiba.....
Kuyud :”tapi ada bagusnya juga”
Dacun :”apa cin?
Kuyud :” biarkan saja Ibumu mati hin, kalau dia mati kan kau tidak akan dirotaninya lagi”
Ihin :”apa ? apa yang kau katakan?!”
PLAK ! 
Ihin lalu memukul Kuyud.. tiba-tiba bu kepsek datang, dia melihat lalu menggelengkan kepalanya sambil melihat Ihin yang sedang memukuli Kuyud..
Kepsek :” ikut Ibu ke kantor,”
Ihin lalu diseret ke kantor ke kantor kepsek
Kepsek :”ulangan jelek, memukul Oyon, memukul temanmu sendiri, kau ini siswa atau preman ?”
Ihin :”aku..aku hanyaa....”
Kepsek:”apa? Kau mau cari alasa, akan kulaporkan pada Ibumu agar dia merotanmu lagi”
Bu Rini :”bu kepsek, jangan kasar padanya. Aku yakin dia punya alasan tersendiri untuk itu”
Kepsek :”kau membelanya lagi ?”
Bu Rini :” aa...aku hanya”
Ihin :” aku hanya berharap Ibuku bisa sembuh, dan merotaniku lagi, andai saja “
Lalu Ihin pergi
Selain itu nilai ulangan Ihin kali ini hanya 5.5 nilai Dacun 9.1, dan Kuyud 4.2
Dacun :”aku mengerti keadaanmu Hin, kau bawa saja kertas ulangan ku , lalu ganti dengan nama mu”
Ihin :” entahlah, aku tidak yakin”
Kuyud :”atau kau ganti saja kertas ku dengan nama mu”
Ihin :” nilai mu lebih jelek dariku, bodoh”
Kuyud :”o iya hehe”
Ihin:” aku..pulag duluan ya”
Lalu Ihin pergi ke RS untuk menjenguk ibunya.
Ihin :” maaf bu, aku sudah berusaha, tapi Cuma ini yang kubisa”
Ibu Ihin lalu mengambil kertas ulangan dan mengenggamnya erat
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit tiba-tiba ibu ihin terdiam membisu
Saat itu Ibu Rini datang..
Ibu Rini :”permisi , Hin.”
Ihin :”ibuku sudah”
Ibu Rini lalu memeriksa Ibu ihin dan..
Ibu Rini:”dia masih hidup, panggil dokter!”
Ibu Ihin lalu dipindahkan ke ruang Intesif...
Ibu Rini :” aku akan mencarikan donor sumsum itu segera, bersabarlah Ihin”
Ihin:”terimakasih ya bu, ibu sudah banyak membantuku”
3 hari kemudian tiba-tiba RS dipenuhi orang yang berniat mendonorkan sumsum mereka.
Tiba-tiba terdaftar Tn. Kuyud 
Ihin :”apa ayah mu mendaftarkan ?”
Ayah kuyud :” benar, aki hanya ingin membantu ayahmu”
Suster :” Tn. Kuyud silahkan ....”
Tn. Kuyud : “iya baiklah sus.
Suster :”apa benar ini nomer registrasi anda ?”
Tn.Kuyud :” biar ku lihat....mmm sepertinya ini bukan miliku “
Tn. Kuyud : “apa ada Tn. Kuyud yang lain”
Kuyud:”ada ayah, itu aku”
Ihin :”apa ? apa kau yakin ?”
Kuyud :”Sebagai tanda maafku Hin”
Tiba-tiba Ibu Kuyud datang
Ibu Kuyud :” Kuyuuuud, kan mama sudah bilang, jangan pernah ikut campur urusa orang”
Kuyud :” berapa kali aku menuruti perintah mu bu ?! biarkan kali ini aku memilih jalan ku sendiri”
Tn. Kuyud :”sudah , biarkan dia mengambil jalan nya “
Ibu Kuyud :”baiklah, jaga dirimu”
Akhirnya Kuyud di bawa ke ruangan agar di cangkokan sumsumnya.
Kuyud :”ini tidak sakit , ini tidak sakiit .... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
Dacun :” itu pasti suara teriakanya “
Ihin :”kau benar, terimakasih Kuyud !”
THE END

Cerpen :SEGUMPAL RINDU

SEGUMPAL RINDU

           Sore itu, aku merasakan perasaan yang amat berbeda. Yusuf, laki-laki yang telah lama kunantikan sosoknya ada di dekatku, kini telah mengikatku dengan rantai-rantai cintanya di hatiku. Sosok dihadapanku ini telah membuat hari-hari ku berbeda. Membuat hari-hariku lebih bermakna. Tak ku sangka dia menyatakan cintanya padaku. Wanita bodoh, congkak seperti aku ini. Bisa-bisanya menarik perhatian orang sebaik dan secerdas Yusuf. Yah, Yusuf. Siswa SMA terpandang di Jakarta.

“Ya, aku pun demikian, aku juga sangat menyayangi mu melebihi siapapun.” Jawabku gugup sambil menggenggam erat ranting-ranting tangannya yang halus.

“Yeach...!!” seru Yusuf. Rona bahagia dapat kulihat dari pancaran matanya. Mataku seolah tak sanggup lagi menahan rasa haru. Kuteteskan air mata bahagia itu di hadapannya.

Ia menarik ku, berlari menuju sebuah gubuk kecil kumuh tak jauh dari apartemen milik ayahnya. Namun di balik gubuk kecil dan kumuh itu kudapati pemandangan yang indah. Sangat indah. Hamparan sawah menghijau. Sesekali terdengar gemuruhnya suara kicauan burung. Matahari tampak bersinar cerah tanpa ada setitik awan yang berani mendekatinya. Ini benar-benar bukan Jakarta yang selama ini ku kenal.

“Kenapa kamu mengajakku kesini?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Aku suka dengan tempat ini. Suasananya masih sangat asri. Apa kamu menyukainya?”

“Ya... suka. Suka sekali.”

Aku tersenyum geli mengingat hari itu. Hhh!! Aku jadi  rindu sosok yang selalu membawa keceriaan di setiap hariku. Itu semua kejadian 4 tahun lalu.

Sekarang Yusuf pindah ke Solo karena tugas ayahnya. Kami sudah putus. Namun bohong jika tidak ada lagi cinta diantara kami. Buktinya, aku masih sangat menyayanginya, bahkan aku sangat menginginkan masa-masa 4 tahun lalu dapat terulang lagi.

Aku mulai duduk bersandar dikursi belajarku. Belum lama aku menjatuhkan diri di kursi, tiba-tiba ponselku berdering. Nomornya tidak ku kenal.

“Halo? Selamat malam.” sapaku.

“Hai Lin? Apa kabar? Ini aku Yusuf.” jawabnya.

“Yusuf? aku baik-baik aja. Bagaimana dengan kamu?”

“Aku juga baik. Aku punya berita bagus, nih. Dan menurutku ini juga termasuk kabar gembira.”

“Apa itu?” tanyaku sambil menyernyitkan kening.

“Minggu depan, ayahku dipindah tugaskan lagi ke Jakarta. Dan otomatis ibuku, aku dan Rara akan ikut pindah bersamanya.” Ucapnya kegirangan. Jantungku mulai terasa memburu.

“Benarkah? Waah.. aku jadi tidak sabar menunggu hari itu.” Jawabku sambil tertawa tanda senang.

Malam semakin larut. Suasananya mulai terasa sunyi. Hamparan awan petang mulai menyapu bintang-bintang. Setitik air pun mulai turun dari langit. Suasana semakin sunyi saat rintik hujan mulai turun dengan deras membasahi bumi. Potret-potret wajah Yusuf masih menari-nari di pelupuk mataku. Aku mulai merebahkan kepalaku ke bantal. Kupejamkan kedua mataku. Dan kubuang jauh-jauh semua bayang-bayang Yusuf. Aku pun terlelap dalam tidurku.

***

Pagi yang cerah.

Titik-titik embun pun dengan lembut menyapa dedaunan nan hijau di luar sana. Aku bangun dengan menyipitkan kedua mataku dan mengepalkan kedua tanganku ke samping seraya menatap keluar jendela. Kulihat mentari pagi telah muncul di ufuk timur. Mataku setengah melirik ke arah jarum jam di sudut kamarku. Sekarang sudah jam enam pagi.

Dengan wajah yang terlihat kusam dan kusut, aku mulai beranjak dari tidurku. Kuraih handuk yang tergantung di dekat kamar mandi.

Setelah kucuci tubuhku dengan air bersih, ku ambil sehelai baju dari lemari gantungku dan langsung mengenakannya. Kaus oblong yang kupasangkan dengan celana pendek. Ku oleskan parfum  kenang-kenangan dari ibu di leherku. Ku cium aroma mawar yang harum.

Aku bergegas keluar kamar dan bersiap menjalani aktivitas rutinku setiap hari. Aku tinggal bersama tanteku yang merupakan adik dari ibuku. Dirumah tenteku, aku hanya tinggal bersama tante Lusi dan om Firman saja, karena selama hampir tujuh tahun menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak.

Aku mengambil lap yang sedikit basah di belakang dan mulai membersihkan lemari dari debu. Tanpa sengaja aku menjatuhkan foto yang tak berbingkai. Tanpa berlama-lama kuraih foto itu dari lantai. Itu foto kenang-kenangan tante Lusi bersama ibu saat liburan di borobudur.

Aku mulai menarik nafas sesak. Tanpa kusadari setitik air suci dari mataku mulai jatuh membasahi pipiku.

“Linda kangen sekali pada ibu.” Ucapku lirih sambil menahan air mata agar tidak jatuh lebih banyak. Karena aku pasti akan merasa malu jika tante Lusi melihatku.

Ibuku belum lama meninggal. Sedangkan ayahku pergi entah kemana. Itu sebabnya aku tinggal bersama om Firman dan tante Lusi.

***

Seminggu berlalu. Keluarga Yusuf mengundangku untuk ikut makan malam bersama di apartemennya. Kebetulan aku sudah kenal benar dengan keluarga Yusuf. Malam itu adalah malam yang paling bersejarah dalam hidupku.

Waktu sudah menunjukkan angka setengah delapan malam hari. Sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah kini terparkir di halaman rumah tanteku. Itu mobil Yusuf. Ia datang untuk menjemputku.

Singkat cerita, aku sudah sampai di  apartemen milik ayah Yusuf. Aku makan dengan menu yang luar biasa mewah. Bukan tahu dan tempe yang setiap hari kumakan dirumah.

Selesai makan malam, Rara menarikku ke taman belakang. Disitu kami ngobrol banyak.

“Mbak Linda nginep sini aja. Nanti biar tidur dikamar Rara.” Ucapnya lirih.

“Hmm.. apa itu nggak terlalu merepotkan Rara ya?” tanyaku.

“Ya nggak dong, mbak. Rara malah senang kalau mbak mau nginep disini.”

“Ya sudah, mbak mau.” Jawabku sambil tersenyum. “Waah, berarti Rara pindah sekolah ke Jakarta juga dong?” kataku mencari topik pembicaraan yang lain.

“Iya, mbak. Mau gimana lagi. Sebenarnya Rara cape pindah-pindah melulu.” Katanya sambil nyengir kuda.

“Rara mau pindah sekolah dimana?”

“Besok mau diantar ke SMAN 176 sama mas Yusuf.” tawa senang kembali terpasang di bibirnya.

Entah mengapa tiba-tiba Rara pingsan. Dia terjatuh di pangkuanku. Rasa bingung mulai menghampiriku.

“Yusuuf!! Om! Tante! Tolong. Rara pingsan!” seruku. Mereka langsung berlari dari ruang tengah menuju ke taman.

“Ya ampun Rara?! Kenapa kamu, nak?” kata tante Sukma. Yusuf langsung membopong Rara masuk ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.

Suasana semakin tegang saat sudah sampai dirumah sakit. Aku dan tante Sukma berlari mendekati seorang dokter yang baru keluar dari kamar Rara.

“Anak saya kenapa, dok?” tanya tante Sukma dengan cemasnya.

“Anak ibu mengidap kanker otak stadium akhir.” Jawab dokter itu sambil memegang pundak tante Sukma. “Kemungkinan hidupnya tidak akan bertahan lama. Saya harap ibu tabah menerimanya.” Katanya lagi.

Tangis tante Sukma semakin menjadi-jadi. Aku pun demikian. Detak jantungku semakin kacau kurasakan. Kupeluk erat tante Sukma.

Aku mulai berjalan mendekati kamar dimana Rara tengah berjuang melawan maut. Sudah hampir lima jam lebih kami berada dirumah sakit. Kulihat tubuh lemas Rara yang terbaring di atas ranjang dari kaca kecil di balik pintu. Kasihan dia. Harusnya malam ini menjadi malam pertama dia tidur bersamaku. Itu yang ia inginkan.

Suara cekikik tawa saat di taman tadi masih terdengar jelas di telingaku. Air mataku kembali menetes.

Aku berlari ke arah musola kecil di rumah sakit. Kukerjakan solat malam setelah kuambil air wudhu.

Aku mendongakan kepalaku dan menengadahkan tanganku meminta kepada-Nya agar Rara bisa sembuh.

“Tuhan. Lindungi Rara. Kami semua menyayanginya. Kami semua ingin melihat dia sembuh. Izinkan dia untuk bisa meraih mimpi-mimpinya. Sembuhkanlah dia, Tuhan.” Ucapku seraya  membenamkan wajahku di kedua tanganku dan mulai kembali ke kamar Rara dengan membawa sejuta harapan agar Rara sadar dan sembuh. Namun Tuhan berkehendak lain. Rara telah pergi. Dia sudah tidak ada.

“Raraa!!!!” tante Sukma menjerit sambil memeluk tubuh Rara yang sudah terbujur kaku. Aku kasihan melihat tante Sukma. Aku menghampirinya kemudian memeluknya. Air mata semakin deras membasahi pipiku.

***

“Sudahlah tante. Linda yakin kalau Rara akan tenang di alamnya yang sekarang.” Ucapku dengan penuh hati-hati.

“Dia masih kecil. Mengapa bukan aku saja yang pergi.” Katanya sambil menaburkan bunga di makam Rara. Suasananya sudah mulai terasa sunyi. Orang-orang yang datang melayat pun sudah pulang. Hanya aku, tante Sukma, om Agum dan Yusuf  yang masih tersisa.

“Hus! Mama nggak boleh bicara seperti itu. Rara sudah tidak ada, Ma. Biarkan dia tenang di  alamnya.” Kata Yusuf dengan penuh sabar.

***

“”Maaf nyonya, barusan saya temukan ini di bawah meja belajar non Rara saat saya sedang menyapu lantai kamarnya.” Kata bi Surti setengah berbisik kepada tante Sukma seraya memberikan sebuah surat saat acara yasinan tengah berlangsung. Tante Sukma langsung bergegas membawa surat itu ke kamar dan langsung membacanya.

Untuk mama,

Mungkin saat mama membaca surat ini, Rara sudah nggak ada. Ma, maafkan Rara karena sudah lama Rara merahasiakan tentang penyakit ini. Rara nggak mau melihat mama sedih karena penyakit Rara ini. Sebenarnya ada satu keinginan rara, ma.

Rara ingin sekali melihat mas Yusuf bahagia. Rara tau kalau mas Yusuf sangat menyayangi mbak Linda, begitu pula dengan mbak Linda. Rara ingin mereka bersatu, ma. Rara ingin mereka menikah. Sekalii ini aja, kabulin permintaan rara ini ya, ma. Rara mohon.

Dari Rara



“Bi, tolong panggilkan Linda. Bawa dia kesini.” Printahnya pada bi Surti yang berada disampingnya. Bi surti langsung bergegas keluar kamar sambil berlari-lari kecil untuk memanggilku.

“Ada apa, tante?” tanyaku penasaran saat sudah sampai di kamar. Tante Sukma tidak menjawab. Dia hanya memberikan selembar kertas kepadaku. Kubuka lipatannya dan segera kubaca isinya.

“Kamu mau kan mengabulkan permintaan Rara itu?” kata tante Sukma penuh harap. Kulihat air mata mulai mengalir dipipinya.

“Iya tante. Linda ikhlas. Semua demi Rara.” Jawabku sambil menghapus air mata di pipi tante Sukma, lalu ku peluk erat tubuhnya.

***

Hari itu tiba. Aku mengenakan kebaya putih lengkap dengan rambutku yang di sanggul. Kulihat yusuf yang mengenakan celana dasar panjang, kemeja, jas dan dasi. Dia sungguh terlihat tampan mengenakannya.

Aku merasa sedih, namun bahagia. Aku sedih karena Rara tidak hadir di acara pernikahanku. Namun aku bahagia, karena Yusuf telah menjadi milikku seutuhnya.

Aku menggenggam erat tangan Yusuf saat di pelaminan. Kubisikkan kata aku sayang kamu ditelinganya. Ia membalasnya dengan anggukan sambil tersenyum bahagia.
***

kumpulan Puisi Sedih


Aku Sakit

Aku tahu aku tak smpurna
tp,apkah slah,, .jka aku menginginkan s’rang y6 smpurna ?? ?
apkah aku ng6bk pantas dicinta? ?
, ..
aKu memang munafik, . ..
tapi ap daya smua nie., .. .
percma aku menghrap dy kmbli. ,.
dy hany ang6ap aku lalu ang!n.
apkh brhak bwad aku memaksa dy kmbli. , !!
apkh brhak,jka aku memaksa dy untk mencntaiku lagi, .?!
s’t dy sdah brpling k rang laen. ., aku mlai tak sng6up mlhat dy ber dua.
tapi. .hanya 1 pesanku tuk s’s0rang tu. ,.jaga dy, n’ bwad dy slalu trznyum ktka da d smpingmu

 

 

“LUKA”

Luka,,
mengapa kau harus datang,
menambah beban hidup yang kelam.
tersisih asa yang hilang,
ku ingin mati,,
jika tuhan mempersetujui,
bukan karena kamu yang begitu ku cinta.
tapi karena ku memang harus terluka.
begitu sakit,,
begitu perih,,
tapi kan pendam luka ini.
agar kau mengerti..
betapa tulus rasa cintaku,,
sampai ku rela tuk mati..
“HANYA KARENA LUKA”




Demi Sesuap Nasi

Sampai kapan penderitaan ini
Selalu dan selalu saja menghantui
tak pernah ada henti
Menyiksa beban hidup ini
Terkadang iri menyerang jiwa
Melihat mereka yang selalu bahagia
Walau semua ini sulit dilewati
Apalah daya inilah yang harus terjadi
Takdir setiap manusia memang berbeda
Jalan hidup setiap manusia memang berbeda
Tapi inilah takdir hidup ini
Berjuang hanya untuk sesuap nasi

 

 

Penantian

tulis puisi anda di sini
Hati bertaut kesunyian bila malam menggelayut datang….
Bayang bidadari hadir menyapa dengan senyum waktu mata terpejam…
Rona jingga kilauan mutiara senja…
Kian lusuh karena tercampakkan oleh takdir manusia…
Karena diri tiada harta,tahta dan gelimang harta..
Hanya perih iringi lurus jalan berduri..
Ucap gemetar bibir saat sayup mata perlahan pergi..
Jauh takkan kembali..
Mungkin sampai nanti atau takdir jemputnya lagi..
Kemudian hewan buas itu menatap wajahnya yang cantik..
Meluluhkan hatinya yang beku…
Kemudian mati…
Bila kuku mencakar hati..
Kiranya maaf hanya anugrah lidah yang keji…
Sampai hari berganti abad kemudian kembali…
Dermaga usang terus ada dan kokoh berdiri…

 

 

saat sedih

Oh cinta, bisa hilang dalam sekejap mata.
Kemanakah masa indah itu?
Tergantikan oleh masa duka
Tak terkenangkah saat kita tertawa, saat kita bersama berbagi kebahagiaan.
Oh cinta, datanglah kembali…
Penuhi hati kami
—————

 

 

lupa

trnya kw lpa hri ni hri pa..
dtik dmi dtik qu menungu kbar drimu dsna tpi kw seprtinya mlah mengbaikan kw lpa ttng kta tntng sesuatu hal yng qu angap bsar dn mungkn kw angap kecil. kw mlah asik dengan kegiatn yg membuat qu hnya merasa cmburu.
kw hnya memntingkn drimu sndri kw tk peduli pendritaan qu tida henti menglir berjuta2 berblir2 bgai tk brnyawa…
kni kw qu blas tk lge ad kbar qu untuk mu…
semoga kw raskn yng sma dng yang qu rsakan saat ni…
—————
bwt mu yg menykitkn hti qu

 

 

entah

tulis puisi anda di sini
entah
entah ap yg qu rasa ..
bimbang menghantui
masa lalu pun terlintas kembali
entah
ap yang qu rasa ..
dy yang temaniqu
seakan tak kurasa hadirnya
dy .. dy yang salalu
mencoba beriqu yang terbaik
tapii dengan mudah terhempas masa lalu
apa ?? apa.. yang aku lakukan ??
kenapa semua ini terjadi ??
kenapa harus dy ??
entah apa yang harus ku lakukan ??
haruskah ku tinggalkannya ??
dan kembali padanya ??
tapi aku masih bimbang,,
aku takut
aku takut dengan jalan yang ku ambil
aku takut merindukan nya
lantas rasa apa yang ku miliki saat ini ..
entahlah aku pun tak mengerti.
—————

 

 

Rembulan menangis

Disini ada rembulan sedang menangis
Kemuning jatuh menimpa pasir putih
Sedih kusambut malam
sepedih kidung kinanti
Meloloskan diri dari kepungan sepi
Terjerat pada tikaman dusta
Menderu lukaku tiada tertahankan lagi
Bunda…aku ingin di pangkuanmu
Melenakan sebentar
Dari berat jalanku ini
Angin sepoi ringan
mengelupaskan kedukaan
Rembulan di tepian pantai
masih menangis
Pada ombak yang berkejaran
Pada nyiur melambai pelan
Rembulan tersedu di ujung malam
Bertanya pada serpihan karang
Tiada cukupkah kata ampunan dariku
Sementara rembulan
melenggok gemulai
Meninggalkan sejuta pesona nestapa
Sebab cinta tertusuk duri…
Kasih sayang terbelah berserakan
kini berhamburan tiada tertahankan
bagai bunga berguguran..




TAK KU INGINKAN

tak kuinginkan ini terjadi
tak ku ingin kan ini begini
tak kuinginkan ini seperti ini
tapi knpa akhirnya bgini
kau pergi tanpa ada penyesalan
kau tak bilang taupun beri kabar
hanya sebuah tawa yg ku ingat dari mu
dan hnya sebuah derita yg saat ini menghiasiku
ku ingin slalu berasamamu
tak pernah kau ku tinggalkan
tpi ini yg kau mau maka sudah lah
ku hanya bisa ucapkan slmat tinggal
085723125281
—————
harryrandy88@yahoo.co.id

 

 

Kesesalan

Dan kini aku semakin terpuruk
terporosok di jurang yg dalam
tak ada yg membantu atau menyongsongku
untuk keluar menghirup udara malam
oh tuhan mengapa menjadi seperti ini ?
bukan ini yg kuinginkan
kekecewaan, kekesalan, kecemburuan
rasa iri, dengki, amarah, nafsu dan kebingungan
melainkan suatu sisi yg indah
saat ku bisa membagi diriku dlm dua fase yg berbeda
jika aku telah salah langkah
mohon kau ingatkan aku
jangan kau biarkan aku semakin terpuruk sepi
karna sesungguhnya aku tak tahu ap yg harus kulakukan
hanya melihat, tanpa merasa .
terdengar gemuruh tawa, tanpa meraba
membuatku kosong dlm hampa
itu karma untuk diriku yang tega.
dan kini hanya menanti fajar menyingsing,.
berharap ini hanyalah sebuah mimpi dlm benakku..

 

 

Biru ku Buram

Tegak ku dlm biru yg memburam 
Sepi ku dlm hitam yg mencekam
Asa masih tetap menyala
Namun cinta tlah habis tiada sisa…
—————
ad_di3n07@yahoo.com

 

 

GELAP

Saat gelap datang semua terasa indah, gelap adlah hariku bagiku gelap adalah cahaya. Cahaya yang slalu akan terus ada dalam hidupku, karna hanya dengan gelap aku dapat melihat semua hal yang tak terbayang oleh’ku, dan hanya dengan gelap aku dapat terus bertahan.
—————

 

 

berpihaklah cinta??!

tulis puisi anda di sini
lama daku menanti
kesungguhan cinta dikau
meski tak pantas bagimu
tapi asa ini kerap meminta
jika handaytolan memandang
apa kekurangan daku
tak sanggup meraih anugrah terindah
kadang datang pergi
seolah pungguk rindukan bumi
tuhan ,jika engkau takdirkan daku
hampa sanubari yang kosong
berikan secercah bahagia dalam akhir hayatq ini
dan bila cinta tak berpihak daku
maka kuatkanlah hatiq

Cerpen : Realita Sebuah Mimpi

Realita Sebuah Mimpi

cuma sekedar pengen cerita.
aku mimpi, hmm mimpi yang bisa dibilang hampir mirip dengan hayalan.
aku tiba-tiba ngerasa perut aku benar-benar sakit dan gak sanggup buat nahan sakitnya.
terus aku jatuh, dan pingsan seketika pas habis dari wc waktu pelajaran fisika, hari sabtu sebelum UN.
bodohnya, aku pingsan dekat ruang guru. trus guru piket yang ngeliat aku tumbang, langsung manggil guru-guru lain buat nolongin aku.
aku pun dibawak ke dalam ruang guru dan disadarin pakek minyak kayu putih.
sebelum sadar, aku ngerasa kalau aku ngigau "meel, sakit.." sambil megang perut aku.
dan ternyata yang aku rasain beneran kenyataan, setelah aku sadar guru-guru yang tadi bantuin aku bilang kalau aku ngigau sambil meringis kesakitan.
parahnya, karena disana ada pak okta jugak, dia langsung nelfon ibu aku dan aku pun dibawak ke rumah sakit arifin ahmad.
sesampainya di rumah sakit, aku langsung di periksa dan di apa-apain yang aku jugak gak tau apa itu penting atau enggak.
dan setelah dokternya selesai meriksa, dia seenak jidatnya aja bilang "anak ibuk di rawat inap saja ya, kita masih harus menjalankan beberapa tes
yang kemunginan mengharuskan dia di operasi"
whaaat??! operasi? apaa?
Operasiiii?? haa??!
OPERASI!!!!
hoo gosh, seketika aku menggigil dan menggenggam tangan ibuku.
"gak apa-apa dek, adek bakal sembuh kok sayang," kata ibu mencoba menenangkanku.
bukan, bu. bukan aku yang harus ditenangkan, tapi ibu -.-
yaa, intinya setelah itu aku dibawa ke sebuah ruangan yang-waaw bauk obatnya nyengat banget-aku jugak gak tau apa nama ruangannya ni.
tapi pokoknya ini kamar aku selama aku di rawat inap.
kamar super VIP yang-aku yakin aku pasti lagi mimpi-ntah gimana pulak ceritanya sampai orangtua aku punya duit sebanyak itu buat ngebayarin biaya
kamar rawat inap aku disini. masuk ke ruang VIP aja udah syukur, eh ini malah super VIP.
haa what the hell is going on -.-
lalu setelah aku masuk ke ruangan itu, ibu ama ayah aku mulai berbenah barang-barang aku yang udah di ambil dari asrama.
rencana awal aku cuma mau IB dan tidur seharian di kamar biruku tercinta, eh jadinya malah pusing seharian karna nyium bauk obat-obatan di kamar putih baruku ini.
karena saking bencinya dengan suasana rumah sakit, aku pun mencoba beralih ke kebiasaan lama aku, MAIN FACEBOOK!
setelah memasukkan kartu yang aku bawak ke asrama ke dalam ponsel nexian bututku, aku langsung mengetik *100# dan memilih pilihan ke-5.
wahahaa maklum, aku agak boros pulsa kalau udah ngenet, jadi aku harus hemat dengan cara mengklik *100# pilihan ke-5.
nah setelah menunggu loading opera mini-sialaan!-yang labat banget, akhirnya aku mulai mengetik emailku dan memasukkan sandinya.
setelah loading yang gak terlalu lama dari yang sebelumnya, aku celingak-celinguk dari atas ampe bawah sambil sesekali komat-kamit ngebaca wall
dan status yang baru terbit.
aah, gak ada yang asik.buat status aah
"kok kamar biru hangat aku berubah jadi kamar putih dingin yang bauk obat-obatan?"
hmm 5 menit kemudian..
tuuk, tuuk. kok gak ada yang ngomen ya?
10 menit kemudian..
hoaam, kok aku jadi ngantuk sih?
25 menit kemudian..
grr..apa sih yang kau harapin raissa?
berharap PRINCE CHARMING kau bakal ngirim wall atau komen ke status kau?
oh gosh, aku lupa kalau PRINCE CHARMING aku gak punya facebook account!
haa, odong banget sih aah -.-
tinuut.. tinuut..
eh ada notif baru, bukak aah.
"tyo francis egan, kurniawan adha, tirta sdw, dan 2 teman lainnya mengomentari status anda"
waauu, great. udah berjam-jam aku nunggu ada yang ngomen, kenapa baru sekarang -.-
dan akhirnya karena aku gak ada kerjaan dan aku MEMANG pengen baca komen-komen orang tu, jadi aku klik aja di notif itu.
"Tyo Francis Egan: rai, kau di rumah sakit? sakit apa kau rai? jangan bilang yang itu"
siaal, apa sih mau ni anak, kok komen nya kayak gitu, membuka aib aku tentang penyakit aku aja -.-
"Kurniawan Adha: adeek ichaaa, sakit apa? kok gak bilang-bilang kakak kalau sakit? haa kakak mau jenguuuk :("
subhanallah, ni kakak aku sejak kapan jadi lebay dan alay, secara dia kan jauh di malay sono, kok berniat mau jenguk aku sih -.-
"Tirta Sdw: saaa, ngapa kamu? sombong skrg ya ama taa"
andeeh maak, aku lagi sakit wooy! sempat-sempatnya pulak kau bilang aku sombong! eheyyo kambiang
"Dwiki Wibisana: mbem, sakit ya? kasian"
sitaan! ngapa sih ni anak sering kali sok-sok cuek ama aku? ngaku aja lah kalau kau sekarang lagi khawatir ama keadaan aku -.- (jiaah pede banget)
"Arif Anshari: ichaa, itu maksudnya apa? icha sakit ya? sakit apa? gak ada cerita-cerita ama ayip dang :("
ooh my god, no comment buat paja ciek ko -.-
karena aku ini anak yang bak hati, tidak sombong dan rajin menabung, jadi dengan setengah hati aku balas komen-komen aneh nan lebay orang tuh.
"Raissa Kurniasih:
yoyo: itu-itu-itu -.- apasih?
kak iwan: ondeek ee kak, kakak kan jauh di malay sono. kayak mana pulak caranya mau jenguk adek ee -.-
titir: aku sakit tir. sebenarnya aku gak sombong kok, tp yaudahlah, aku males berdebat skrg
ndut: iyaa, senang kau ndut?
ayip: ya maaf"
haa aku langsung lunglai habis ngesend komen aku tadi. kayaknya aku mau istirahat dulu deh.


Setelah aku bangun...
looh, kok remang-remang ni?
eeh tiba-tiba silauu. ada orang di ujung sana, cowok. siapa?
aku gak tau kenapa kaki aku terasa ringan, tapi aku ngerasa ini kaki kok kayak jalan sendiri ya?
taap, taap. semakin lama kaki aku terasa semakin ringan, seakan-akan mau terbang.
dikit lagi, aku baru hampir mendekatinya. tapi waktu aku mau megang bahunya, aku merasa seperti melayang.
haa, kok aku bisa terbang? kok bisaa?
kok baru sekarang aku bisa terbaaang?
aah, jangan-jangan dari awal aku lahir kedunia, aku memang udah punya sayap.
tapi ntah ngapa sayap aku kok baru muncul sekarang yaa?
intinya? waaa, aku terbaaang!
aku mau teriak supaya cowok yang ada dihadapan aku ni berbalik dan menolongku.
dan alhamdulillahnya, seakan-akan dia punya telepati ama aku, dia mulai berbalik dengan perlahan menghadapku yang mulai terbang tinggi.
sialaan, kok dia berbaliknya slow motion segala? kambiaaang!
sayangnya, setelah dia berbalik yang BENAR-BENAR berbalik sempurna menghadap aku, aku udah gak bisa ngeliat mukanya.
maklum lah, faktor mata aku yang udah rabungak karuan, blur-blur gimanaa gitu kalau ngeliat orang.
lalu tiba-tiba aku merasa seperti ada yang menarik aku dengan kuatnya ke dalam sebuah lubang hitam.
whaat? jangan-jangan ini dia THE BLACK HOLE yang ada di cerita-cerita doraemon tu!
tapi kok, tarikannya semakin lama semakin menjalar ke tangan aku yaa?
"deek, bangun.deeek?"
haa! aku tersentak!
"ibu? ngapa?"
"adek siap-siap ya, entar sore adek di operasi"
WHAAAAT??!!


maaf ceritanya saya sambung besok ya, sebenarnya ini udah jam 10:20 PM, jadi sepertinya ini udah jadwal tidurnya saya.
hmm sekedar informasi lagi, besok saya UH-2 dan MID KWN, doain saya ya.
kalau jadi, doain saya supaya bisa ngejawab soalnya dengan benar, baik itu hasil sendiri ataupun hasil nyontek.
tapi kalau gak jadi, yaa..eh?
pokoknya lebih baik doain deh supaya gak jadi!
soalnya aku belum baca slide KWN yang bab-5.
ni gara-gar si YOYOK HARTOYO THE MATH PERSON!
hii, matem kali sumpah. masak dia gak mau bagi slide kwn ama kami daang.
kambiaang kau yok! -.-
ya Allah, semoga besok gak jadi UH dan MID, jadi yoyok dapet karmanya karna dah jahatin kami, AMIN!


Oke, ceritanya saya sambung sedikit karena ini sudah menunjukkan pukul 06:06, jeduug -.-
setelah aku mendengar berita yang naudzubillah dari ibuku, aku langsung mengambil hape dan dengan gemetaran menekan beberapa tombol. BBM
haa, ngapain aku nelfon dia? emang sejak kapan dia pakek ponsel?
haa sialan, aku pengen banget ngasih tau dia kalau aku mau operasi entar sore, tapi aku gak tega bikin dia sedih atau khawatir
atau kepikiran ama aku terus-terusan. kan dia mau un, aku gk mau bikin dia malah mikirin yang lain, bukannya mikirin un nya.
ya Allah, bagusnya aku bilang gak ya ama dia?
kalau aku bilang, dia pasti jadi kepikiran. tapi kalau gak aku bilang?
ya Allah, aku takut, aku galau. bantu aku ya Allah, amin.


oke ceritanya di sambung lagi, ehem ehem.
setelah aku berfikir dengan sangat keras, akhirnya aku nentuin buat nanyak ama kak iwan.
aku pun mulai mencari menu "tulis pesan baru" dan mengetik beberapa kata-atau banyak ya?
"kak, adek entar sore di operasi kak. adek takut, kak.
adek jugak bingung, bagusnya adek kasih tau gak ya ama kak melfa kalau adek mau di operasi?
adek takut dia khawatir, terus dia malah gak mikirin un nya. tolong solusinya kak!"
oke, SEND!
haa, aku kok gak ingat ya sejak kapan aku punya nomer ponselnya kak iwan? hmm..
tinuut, tinuut..
ada sms. tinuut, tinuut..
eeh, kok ada dua?
tinuut, tinuut..
eeh, tigaaa?
tnuut, tinuut, tinuut, tinuut, tinuut, tinuut..
waah, banyaakkalii, aku curiga ini semuanya dari kak iwan -.-
akhirnya aku memberanikan diri membuka pesan masuk yang banyak banget itu.
dan setelah di lihaat...
jeng jeng jeng...
semua pesan yang banyak banget tadi itu dari BBM -.-
aah, grr.. aku udah bsa nebak sih apa yang di kirimnya, tapi karna aku anak yang baik hati dan tidak sombong, akhirnya aku membuka semua pesan masuknya.
"caa, tadi kenapa pingsan? ca sakit? :("
"sayaaaangg.."
"caa, tolong bales, kakak khawatir kali ama ca :("
"maaak ee ca, kata buk evi rahmi tadi ca ngigau manggil nama kakak sambil megang perut ya? pasti ca pingsan karna perutnya sakit lagi yaa?"
"ya Allah, sembuhkan lah raissa, selamatkanlah dia, smoga dia gak apa-apa ya Allah. kakak sayang raissa :'("
"yaang, lg dimana sih? kata guru-guru ca di bawak pulang ya ama ibu? lagi di rumah sakit yaang? tolong bales kalau entar dah bukak hape ya"
waaauu, kurang banyak dan kurang lebay isi sms nya -.-
yaudah aah, terpaksa aku bales apa adanya-haa, looh, terpaksa? memang harus di bales!
"ndeeeh, banyaknya sms kakak ni -.-
adek gak kenapa-kenapa kok, cuma agak kecapekan dan sakit sih dikit perutnya, tapi cuma dikit aja nyo.
jangan khawatir ya, adek beneran gak apa-apa. kakak belajarlah lagi, ingat senin UN!
belajar ya yaang, semangat! ^_^
ILYMA :*"
jiaah, itu yang nulis pesan barusan aku yaa?
haa, ternyata aku agak alay dan lebay -.-
tinuut tinuut...
eh ada pesan lagi? kok cepat banget sih ni anak bales nya? ngefans banget ya, ama aku?
"haa icha mau di operasii? kok bisaaa deek?
emang sakitnya icha separah itu yaa? ndeeh, kasian adek kakak :(
kalau menurut kakak sih jangan di bilang aja, entar dia kepikiran terus.
adek taulah kan kayak mana melfa tu, entar dia bisa stres pulak karna mikirin keadaan adek.
mendingan rahasiain dulu dari dia ampe dia selesai un, entar kalau dia udah selesai un barulah adek bilang ama dia.
tapi rasa kakak dia pasti skrg ni lagi kepikiran ttg icha, soalnya kan dinding di plus bisa bicara.
entar kalau melfa sms, cobak aja semangatin dia kalau icha gak kenapa-kenapa.
pokoknya jangan sampai dia stres dulu, semangatin aja dia terus, oke?
oyaa, ceritain sejelas-jelasnya kenapa icha skrg bisa ada di rumah sakit dan mau di operasi!"
grr, kak iwan ternyata. kok panjang banget sih isi pesannya?
hmm yaa, lagi-lagi harus aku bales deh.
bla, bla, bla, bla..
setelah aku bersusah payah ngejelasin semua masalah dan segala tetek bengeknya-akhirnya!-kak wan ngerti jugak dan mulai mengakhiri pesan panjaaaaang
kami dengan balesan "iyaa, huhuu kasian adek jelek kakak. semoga cepet sembuh ya dek, kalau sembuh entar kakak traktir eskrim di pnb, oke!"
ya ya ya, seneng sih aku nya karna mau di traktir di pnb, tapii...dia kan pulangnya bulan mei, berarti bulan depan.
aaahh lama kaliii -.-

tik tuk..
jam sudah menunjukkan pukul 2:55 PM
ooh my god, tadi ibu bilang kalau aku bakal di bawak suster-suster kribo itu ke ruang operasi jam 3:30 PM.
anjriit, berarti waktu aku buat hidup di dunia dengan aman dan tentram tinggal...berapa ya?
3:30 dikurangi 2:55? uh oh, tinggal 35 menit lagi.
huh whaaat? berarti aku harus memanfaatkan waktu yang aku punya sebelum nantinya aku meninggal karna operasi-sialaan!-yang tiba-tiba ini.
okee, pertama apa yang harus aku lakukan?
hmm yaa, nelfon memel!
aah bego, dia kan gak ada ponsel!
hmm sms ajadeh, aku mau nyemangatin dia buat terakhir kalinya.
tik tuk tik tuk..
"memeeel, adk capek kali ni. adk mau tidur dulu yaa, entar jangan lupa belajar.
adk sayang memel, jangan lupain adek yaa"
SEND!
haa, sekarang tinggal ngirim pesan-pesan send all buat temen-temen aku.
"maaf mengganggu, sekedar informasi aja, entar jam 3:30 aku mau operasi usus aku.
kata dokter, operasi ni dilakuin supaya bisa mencegah usus aku bocor alias koyak karna infeksi yang udah waaau banget.
aku sekarang lagi di rumah sakit arifin ahmad lantai 3, ruangan anggrek, kamar super VIP 02.
tapi aku gak tau entar operasinya di ruangan mana, jadi kalau ada yang berbaik hati mau jengukin aku,
slahkan tanyak ruang operasinya di receptionist-looh?
terima kasih atas partisipasi kalian selama ini, aku harap kalian mau ngedoain yang terbaik buat aku.
thanks ya all, ILYSDM :*"
SEND ALL!
tok tok tok..
"adek raissa, yok ikut suster ke ruang operasi ya"
haaa, TIDAAAAAKK!


aku gak tau aku lagi ada dimana dan aku sedang ngapain disini. tapi yang aku ingat terakhir kali, aku dibawak suster kribo tu
ke ruang operasi yang entah berapa jauhnya dari kamar super VIP 02-ku.
lalu, setelah disuruh berganti pakaian dengan sesuatu yang membuat badan ku gatal-gatal, akhirnya aku di suruh berbaring di tempat tidur kecil dan memakai
sebuah penutup kepala-yang mungkin kalau orang awam bilangnya shower cap-yang gede dan ngebuat kepala aku kayak jamur.
setelah baringan, aku disuntikkan obat bius di tangan kiriku, dan kemudiaaan....

aku dimana? waa, kok terang kali disini?
aku ngerasa kayak lagi syuting di lokasi take nya a lovely bones, hahaa
rasanya sejuk, semua yang ada disini serasa kayak di dunia mimpi-looh, bukannya aku emang lagi di dunia mimpi?
tentram, semuanya terasa nyaman.aku berputar-putar mencari ujung dari tempat indah ini, tapi kenapa tidak ada ujungnya?
ngiiingg.. apa itu?
telinga aku terasa sakit karena mendengar suara yang terlalu nyaring dan keras. suara itu pecah, tidak karuan dan semakin lama semakin membesar.
tiba-tiba aku tersentak dan kini aku kembali di ruang operasi tempatku diberi bius tadi. tapi kenapa ramai?

kenapa ada ayah, ibu, dan.... haa?
tidak, ada apa ini? kenapa semuanya berkumpul disini dan saling adu menangis?
aku melihat banyak orang di ruangan yang tadinya sepi ini. di ujung ruangan aku ngeliat tyo, tirta dan dwiki saling menangis.
di sampingku ada ayah, ibu dan abangku-yang kemungkinan datang sesaat setelah un nya selesai.
lalu di belakangnya sudah pasti teman-teman ku di plus dan anggota d'R yang aku gak tau kenapa mereka bisa ada disini.
dan "cklek", pintu ruangan operasi terbuka dan... kak melfa?
looh, apa ini? kok semuanya berkumpul disini dan kenapa,, kak melfa datang sambil menangis?
yang anehnya lagi, kak melfa langsung berlari ke arah tempat tidurku dan mengguncang-guncangkan tubuhku.
apaa? dia mengguncangkan tubuhku tapi kenapa aku tidak merasa bahwa dia menyentuhku?
lalu, kenapa sekarang aku melihat bahwa ada diriku yang lain yang sedang berada di tempat tidur itu?
jadi.. apaa...
seketika aku langsung menyadari hal apa yang salah disini. aku lalu mencoba untuk menyentuh pundak kak melfa yang mulai merosot karena sudah tidak tahan untuk
melihat keadaan gadis yang terbaring di tempat tidur itu-bukan, itu bukan aku.
siingg.. tidak terjadi apa-apa, kak melfa tidak menyadari sentuhanku.
siingg.. tidak! kenapa bisa tembus?
siingg.. tidak tersentuh!
tidak mungkin! tidaaak!
seketika sebuah cahaya menyilaukan turun dari atas kepalaku dan membuatku seakan melayang ke udara.
tidaak! aku mencoba untuk menggapai kak melfa yang masih meratapi sosok jenazah tersebut. tolonglah, lihat aku! aku disini, di ataas!
aku mencba untuk menggapai-gapai lagi ke arah ayah, ibu dan abangku. tidak ada respon juga!
tidaaak! Allah, jangan bawa aku duluu! tidaaak!!

aku selalu merasa seperti keluar jalur, seperti tersandung sepanjang hidupku.
aku tidak pernah merasa biasa, karna memang aku tidaklah biasa.
aku tidak mau menjadi biasa.
aku harus menghadapi kematian, kehilangan, dan penderitaan dalam duniamu.
tapi aku juga tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih jujur pada diriku sendiri.
karena itu adalah duniaku juga.
disanalah tempatku berada.
tempat yang jauh dari yang pernah kau ketahui.
tempat yang sudah pasti belum saatnya untuk kau datangi.
tempat dimana aku dan kau akan dipisahkan untuk sementara waktu.
tempat dimana aku akan pergi menghilang selamanya di duniaku yang baru dan jauh.

Artikel Asli Dari SISWA TKJ | Karawang: Cerpen
Di www.siswatkj.co.cc

Cerpen: Bencana di Negeri Dongeng

Bencana di Negeri Dongeng
Oleh : Kyai Mbethik

      Sudah lima hari ini sang Denawa uring-uringan tak tentu juntrungannya. Sebagai raja negeri dongeng, dia benar-benar pusing nggak ketulungan. Bayangkan baru beberapa tahun menjabat sudah dibebani dengan berbagai masalah. Dari yang masalah korupsi warisan pendahulunya, masalah bayar utang negara yang entah berapa ratus tahun lagi baru bisa dibayar, masalah demo-demo menolak kebijaksanaan, keputusan dan kemauannnya, masalah teroris yang masih nunggu kesempatan buat ngaco lagi, penyakit-penyakit bermunculan, baik yang lama maupun yang baru dan yang paling bikin pusing, stress dan rada gila Denawa, adalah bencana dimana-mana di belahan negeri dongeng tempat dia berkuasa.
Hal tersebut harus dibicarakan dan dibahas bersama wakil raja (di negeri dongeng raja ada wakilnya), penasihat, menteri-menteri, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah, ketua rw bahkan sampai seluruh ketua rt di negeri dongeng dikumpulkan di istananya yang hanya berukuran 15 M X 15 M persegi, tapi tingkat 25 kebawah. Kebawah? Ya kebawah. Karena sang Denawa beralasan agar istananya tidak terkesan megah, mahal dan luas. Maka atas saran dari penasehatnya, Prof. Togog, yang ahli masalah tutup - menutupi kesalahan, kecurangan dan segala tipu daya, agar sang Denawa membuat istananya 25 lantai tapi kebawah (dalam tanah). Maksudnya biar rakyat negeri dongeng terkesan dengan sifat merendah sang raja Denawa. Biar tidak terkesan kaya, mewah dan memboroskan uang Negara (uang rakyat). Sang Denawa jelas terkesan dengan usulan tersebut, dan dia percaya 150 persen kepada pendahulunya itu. Karena Sang Togog adalah lulusan Universitas Dekat London (UDEL), universitas terkenal di negeri ratu Elizabeth, jurusan fakultas teknik tipulogi.
Kembali keurusan pusingnya sang raja Denawa. Dalam orasinya sang Denawa mengatakan, “terima kasih atas kedatangan semua hadirin, baik yang diundang maupun yang tak diundang”, para hadirin maklum karena memang sang raja sedang bingung. Sang Denawa melanjutkan orasinya, “seperti kita ketahui bersama, bahwa negeri kita yang tercinta ini sedang dilanda bencana yang saling susul menyusul macam angkutan kota yang ngejar setoran. Maka daripada itu, kita yang notabene adalah penguasa, pengurus dan pelaksana roda pemerintahan di negeri ini, sudah seharusnya cepat mengambil tindakan-tindakan yang berguna maupun tidak berguna bagi bangsa ini.” Hadirin tetap maklum. “Pertama-tama, kecelakaan dimana-mana, dari kereta api, bis, kendaraan pribadi sampai orang berjalanpun masih bisa tabrakan. Lalu disusul dengan bencana tsunami”. Sang Denawa menghentikan orasinya sebentar untuk minum air putih yang sudah diberi ramuan anti gagap dari dukun istana. Dengan sedikit berdahak dia melanjutkan orasinya. “Sampai mana saya tadi?” “Sampai tabrakan”, kontan para hadirin berteriak. “Baik, saya lanjutkan, sekarang gunung-gunungpun ikut-ikutan ngamuk, sungai-sungai juga mau muntah keluar, dan kebakaran hutan dimana-mana. Padahal kalau kita mau jujur, kita tidak pernah menyakiti gunung, sungai, hutan dan yang lain. Kita tidak pernah mengumpat mereka, tidak pernah mencelakai mereka apalagi menyinggung perasaaan mereka. Lalu kenapa mereka bisa dendam sama kita dan bikin kekacauan dimana-mana? Kenapa? Kenapa? Seribu kali kenapa?”
Semua hadirin tetap diam, karena memang mereka nggak ngerti mesti jawab apa. Dan yang lebih parah lagi, setiap jawaban yang keluar dari mulut tidak boleh menyinggung-nyinggung keluarga, saudara, teman apalagi nama sang raja. Setelah  menunggu beberapa menit belum ada yang buka suara, sang Denawa kembali melanjutkan.
“Nah, saya juga yakin kalau saudara-saudara pasti nggak bisa menjawab, karena saya yang menjadi raja di negeri dongeng ini saja tidak mengerti, apalagi saudara-saudara. Tapi untuk kali ini saya akan memaksa saudara-saudara untuk menjawabnya dan saya akan tunjuk orang-orang yang mesti menjawab.” Serentak para hadirin berdoa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, agar tidak ditunjuk oleh sang raja.
“Tuan Cingkarabala sebagai wakil saya yang pertama-tama harus bisa memberikan jawabannya,” kata sang Denawa. Sang Cingkarabala yang lagi terkantuk-kantuk kelabakan ditunjuk sang raja. Tapi demi gengsi dan jabatan, sambil tersenyum sang Cingkarabala langsung berdiri dengan sejuta keyakinan. “Baik tuan raja yang saya hormati, sayangi, kagumi dan cintai. Saya sangat terkesan dan kagum dengan orasi tuan raja tadi, sampai-sampai saya tidak ingat apa yang tadi ditanyakan tuan raja kepada saya?” Serentak hadirin tertawa dalam hati. Dalam hati? Ya, karena semua tahu, kalau menertawakan sang Cingkarabala apalagi sang Denawa, hukumnya adalah haram dan minimal bisa mendapatkan hukuman potong gaji selama 3 bulan. Sang raja Denawa dengan bangga memberitahu sang Cingkarabala apa yang ditanyakannya. Sang Denawa bangga akan kebodohan Cingkarabala karena berarti dia lebih pintar dari sang wakil. Sang Cingkarabala pun mengangguk-angguk seolah-olah paham, padahal sumpah setengah mati dia nggak ngerti mesti jawab apa.
Lalu tetap dengan gaya sok tahunya dia bicara, “tuan raja, menurut saya bencana yang terjadi di negeri kita ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, semua karena kesalahan rakyat, karena rakyat tidak lagi patuh dan menurut pada pemerintah kerajaan. Maka daripada itu, sang alampun marah karena sang alam adalah kroni dari sang raja.” Sang raja dan hadirinpun bingung nggak ngerti maksudnya. “Lalu yang kedua”, sang Cingkarabala pun melanjutkan bicaranya. “Dengan banyaknya bencana ini, kita akan tahu negeri mana saja yang bersahabat dengan kita. Karena yang mau menyumbanglah yang berarti menjadi sahabat negeri kita. Sedangkan yang tidak mau menyumbang berarti tidak peduli dengan kita, maka saya punya usul bagaimana kalau kita protes kepada negeri-negeri yang tidak menyumbang kepada negeri kita? Bagaimana?” Sontak hadirin menyatakan, “setuju, hidup tuan Cingkarabala.” Maklumlah di negeri dongeng ini, penjilat dilindungi oleh undang-undang Negara.  Setelah menjawab pertanyaan sang raja Denawa, sang Cingkarabala pun dengan kepala mendongak dan penuh kepongahan duduk kembali di kursinya dengan diiringi applaus dari hadirin tanpa henti sampai sang wakil raja duduk.
Sang raja Denawa kembali ke mimbar untuk menunjuk seseorang. “Kepada tuan penasehat kerajaan, yang dipertuan agung Prof. Togog, mohon kiranya ada masukan mengenai masalah yang kita hadapi ini, terima kasih sebelumnya atau bahasa Inggrisnya thank’s before.”
Sang Togog dengan baju kebesarannya (memang benar-benar kebesaran), melangkah maju ke mimbar dengan diiringi applaus dari hadirin. Sang Togog pun memulai komentarnya, “terima kasih kepada tuan raja karena saya diberi kesempatan untuk membantu menyelesaikan masalah di negeri ini. Tapi yang paling penting dalam hal ini saya beritahukan kepada semua hadirin bahwa sesuai dengan jabatan saya yaitu penasehat kerajaan, tugas saya adalah menasehati. Jadi tidak boleh ada yang protes dan komentar setelah mendengar semua penuturan saya, apalagi menasehati, karena jangan lupa saya adalah penasehat kerajaan. Jadi saya pasti lebih pintar dari yang lainnya.”
Sang Togog melanjutkan, “semua bencana di negeri kita ini adalah merupakan bencana nasional. Jadi bukan lagi bencana daerah atau lokal, apalagi interlokal dan sljj, maka dari pada itu, untuk menyelesaikannya harus disertakan partisipasi semua rakyat di negeri dongeng ini. Harus melibatkan semua rakyat baik di pusat maupun daerah. Mereka harus mempunyai saran dan solusi untuk masalah bencana ini. Dengan cara apa mereka menyampaikan solusinya? Yaitu dengan cara SMS. Kenapa SMS? Agar kita juga mendapat untung dari biaya SMS tersebut. Tentukan biaya SMS sebesar Rk. 5000,- (Rk = Rukiah, mata uang negeri dongeng. 1 Rukiah = US$1000).”
Sang Togog mengusap dulu perutnya, dan kemudian kembali berkoar-koar, “sudah tujuh hari ini saya berkomunikasi dengan semua jin-jin yang mengurusi gunung-gunung (jin Gun-gun), lautan (jin Ub-ub, dari kata Ubur-ubur, karena memang mirip ubur-ubur) , tanah (jin Mirca, dari kata mirip cacing), langit (jin Aw-aw, dari kata awang-awang), banjir (jin Lelep, dari kata kelelep), api (jin Sundut, dari kata kesundut) dan angin (jin Awut, dari kata awut-awutan). Mereka semua mengatakan bahwa bencana-bencana ini terjadi karena rakyat tidak lagi rutin memberi sesaji kepada sang jin penunggu alam, maka sang jin diperintah oleh alam untuk membuat keonaran dan bencana.”
“Nah dari penjelasan para jin tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa rakyatlah yang bersalah dalam hal ini. Maka secepatnya para pejabat dan pengurus pemerintahan mengkoordinasikan hal ini kepada rakyat. Laksanakan sesajian dimana-mana, kalau perlu dengan sesaji yang melimpah ruah dan mewah, misalnya yang biasanya pakai kue appam diganti dengan kue donat, biasanya pakai nasi tumpeng diganti dengan hamburger, biasanya pakai pisang diganti dengan pizza, dan seterusnya, agar para jin merasa tersanjung dan dihargai,” sang Togog kembali mengusap perut buncitnya. Kemudian dia melanjutkan kembali, “bagaimana? ada yang berani melanggar seruan jin-jin tersebut? atau ada yang meragukan ucapan saya?”, para hadirin diam sejuta bahasa. Sang penasehatpun akhirnya kembali duduk ke kursinya dengan terengah-engah kecapaian.
Sang raja Denawa kembali naik ke mimbar, dan memberikan komentar atas nasehat yang tidak sehat dari sang penasehat. Sang Denawa mengatakan bahwa semua komentar dan nasehat itu harus diperhatikan oleh semua hadirin karena sang Togog adalah tokoh panutan dan teladan bagi semua manusia di negeri dongeng.
Kemudian sang raja Denawa menatap satu persatu para hadirin, dan matanya tertuju kepada satu sosok pemuda yang duduk di pojok ruangan dengan santai seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dikatakannya tadi. Lalu sang Denawa menegur pemuda tersebut dengan nada tinggi, “hoi anak muda yang duduk di pojok, siapa kamu dan darimana asalmu serta untuk apa kamu hadir disini?” Sang pemuda dengan santai menjawab, “nama saya Mbethik, orang memanggil saya dengan sebutan kyai Mbethik, padahal saya tidak pernah merasa menjadi kyai dan yang pasti saya belum pantas untuk mendapat sebutan kyai. Mengenai asal saya, saya sendiripun tidak tahu, karena waktu dilahirkan saya belum tahu apa-apa dan belum bisa mengingat apa-apa.” Sang raja Denawa, wakil, penasehat dan para hadirin terkejut dengan jawaban anak muda tersebut. Akhir-akhir ini memang santar tersiar kabar di seantero negeri akan keberadaan seorang pemuda yang berani menentang pemerintah kerajaan dan mempunyai pengikut yang cukup banyak. Menurut berita, sang kyai Mbethik dulunya adalah seorang pemuda yang tidak baik tingkah lakunya dan sering melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Tetapi setelah menghilang dari negeri dongeng selama 5 tahun, dia kembali dengan segala kepribadian dan tingkah laku yang sangat berubah. Sang pemuda berubah menjadi manusia yang taat beribadah, sopan dan selalu berusaha untuk menolong orang lain.
Sang raja Denawa kembali bertanya kepada kyai Mbethik, “jadi kamu yang namanya kyai Mbethik? Untuk apa kamu hadir disini? Apakah kamu berani memberikan saran kepada kerajaan? Saya sebagai raja yang terhormat di negeri ini akan memberikan kesempatan kepadamu untuk maju ke mimbar dan memberikan saran, tetapi jika saranmu tidak masuk akal dan merugikan kerajaan, maka pihak kerajaan akan memberikan hukuman kepadamu. Bagaimana?”
Dengan tanpa ragu kyai Mbethik maju ke mimbar. Kemudian dia mulai bicara, “Ass. Wr. Wb, saya ucapkan terimakasih kepada tuan raja yang telah memberikan kesempatan kepada saya. Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi negeri ini. Bencana terjadi dimana-mana dan parahnya penanggulangannya masih sering terlambat dengan alasan masalah birokrasi.”  Kuping sang raja dan para pejabat mulai agak gatal-gatal. “Orang mulai saling menyalahkan satu dengan lainnya, mulai mencari kambing hitam, kuda hitam bahkan kalau perlu satria baja hitam.” Kyai Mbethik tertawa sendiri, kemudian dia melanjutkan bicaranya, “kenapa setiap orang tidak berani menyalahkan dirinya sendiri? mengakulah salah, minimal dihadapan Allah SWT, dan yang tidak kalah penting adalah cepat-cepat bertobat kepada-Nya. Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, bukan milik raja, wakil, penasehat atau siapapun apalagi saya.” Kuping sang raja dan hadirin tambah gatal dan mulai agak kepanasan. “Ingat-ingatlah bahwa makhluk Allah yang pertama-tama mengaku paling baik adalah iblis (QS Shad : 76) sedangkan binatang (al-dabbah) yang terjahat adalah manusia yang tuli, bisu dan tidak mau mengerti (QS al-Anfal : 22). Mereka mempertuhankan hawa nafsu tak ubahnya seperti hewan (al-an’am), bahkan lebih sesat (QS al-Furqan : 43-44).” Setelah diam sesaat, kyai Mbethik melanjutkan,  “nah berdasarkan firman Allah SWT tersebut, manusia umumnya dan khususnya di negeri dongeng ini, seharusnya menyadari bahwa segala bencana dan musibah yang menimpa negeri dongeng ini adalah semata-mata kehendak-Nya dan itu adalah cerminan dari Asma’ Allah yaitu Ad-dharr (maha pemberi bahaya). Manusia sendiri adalah cerminan dari  wakil Allah di muka bumi (Khalifah Allah fi al-ardh), maka segala tindakan dan tingkah laku kita harus mencerminkan Asma’, Shifat dan Af’al Allah SWT. Sekarang saya mau bertanya kepada para hadirin semua yang ada disini, tidak terkecuali, apakah kita sudah menjadi manusia yang diperintahkan oleh Allah SWT? atau menjadi manusia yang sudah mengikuti tauladan kita umat islam sedunia yaitu Muhammad Saw?”
Hadirin diam membisu, bahkan sang raja Denawa, sang Cingkarabala dan penasehat tidak tahu mesti berbuat dan berkata apa? Yang pasti kuping mereka sudah semakin panas dan mulai sedikit mengeluarkan asap. Kyai Mbethik tersenyum dan meneruskan bicaranya, “Jadi semua bencana di negeri dongeng ini, baik itu tsunami, gempa bumi, banjir, wabah penyakit, kelaparan, kekeringan dan lain-lainnya, adalah cambuk serta murka Allah kepada umat manusia yang melupakan-Nya dan tidak mentaati aturan-aturan yang dikehendaki-Nya.”  Sang penasehat berdiri kemudian bertanya kepada sang kyai Mbethik, “berdasarkan apa yang kamu bicarakan tadi, lalu bagaimana dengan pesan dari para jin penjaga alam? bukankah mereka akan marah bila kita tidak menuruti kemauan mereka dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, bila mereka akan membuat kekacauan dimana-mana, apakah kamu berani menanggung resiko?”
Kyai Mbethik tertawa akan kebodohan sang penasehat, lalu ia menjawab, “sudah saya katakan tadi, bahwa semua bencana ini adalah semata-mata karena murka Allah kepada kita umat manusia. Sesungguhnya, jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya, kecuali Dia sendiri. Bukan seperti yang dikatakan tuan penasehat tadi, bahwa ini adalah ulah  para jin yang marah dan minta sesaji-sesaji. Musrik, musrik dan musrik orang yang menduakan Allah SWT. Memang jin, setan dan iblis selalu berusaha untuk menghancurkan iman manusia, maka ia tidak akan berhenti sampai hari kiamat (yaum al-qiyamah) tiba. Ada satu lagi yang harus diingat bahwa tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini kecuali Allah SWT. Karena Allah maha Kekal dan Abadi. Karena semua bencana itu adalah kehendak-Nya, maka bencana dan kematian itu tidak bisa dimajukan dan diundurkan. Kita sebagai manusia hanya bisa bertaubat dan berdoa memohon agar Allah SWT tidak menimpakan murka-Nya kepada kita dan seandainya hal itu terjadi pada kita, maka kita harapkan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah bukan su’ul khotimah.”
Hadirin terpaku mendengar ucapan kyai Mbethik. Mereka mulai menimbang-nimbang dosa dan pahala mereka selama hidup di dunia. Ada yang mukanya pucat karena merasa dosanya banyak dan ada yang tersenyum karena merasa dosanya sedikit. Salah satu hadirin yang tersenyum dan merasa dosanya sedikit adalah sang menteri urusan thoto kromo (sopan santun) dan keagamaan (MEUNTHOK). Setelah dia menghitung-hitung amal dan dosanya, dia yakin kalau dia tidak termasuk orang yang dimurkai Allah SWT. Hal itu karena dia sudah membangun 5 Masjid, 7 Musholla dan selalu menjalankan shalat 5 waktu. Sedangkan dosanya paling-paling hanya karena melakukan korupsi, itupun tidak banyak, cuma ngikutin trend dan buat bangun rumah serta beli mobil mewah saja. Masih lebih sedikit dibanding dengan pejabat-pejabat kerajaan yang lain. Rupanya sang menteri yang tersenyum-senyum sendiri sempat diperhatikan oleh kyai Mbethik. Lalu sang kyai bertanya kepada sang menteri, “kalau boleh saya tahu, apa yang membuat tuan meunthok tersenyum sendiri?” Sang menteri kaget ditanya begitu, lalu dia menceritakan alasannya tersenyum. Setelah mendengar alasan dari sang menteri, ganti sang kyai Mbethik yang tersenyum. “Apakah tuan meunthok sudah menjalankan shalat dengan benar?”, Tanya sang kyai.
“Tentu saja, memangnya kenapa?”, tanya sang menteri.
“Bagaimana cara tuan shalat?”, kembali sang kyai bertanya.
Dengan agak marah sang menteri menjawab, “tuan adalah seorang kyai dan saya sudah menjadi muslim dari lahir, juga saya adalah seorang meunthok, apa tuan masih meragukan ilmu agama saya?”
“Tolong jawab saja pertanyaan saya, tuan menteri,” kata sang kyai.
Walau dengan amat marah, sang menteri manjawab juga, “saya shalat sesuai dengan rukun sholat, dan saya melakukannya 5 waktu sehari, puaskah tuan?, dan saya selalu melaksanakan puasa ramadhan setiap tahunnya.”
Sang kyai menjawab, “tuan, anda tahu kenapa saya menanyakan ibadah tuan? Karena tuan dan para hadirin perlu tahu, bahwa banyak orang yang telah mengikrarkan syahadat Tauhid, tetapi hati dan pikiran mereka telah tertutup dari kebenaran Ilahi. Tubuh mereka memang bergerak-gerak melakukan penyembahan kepada Allah (shalat), tetapi kiblat hati dan pikiran mereka tertuju kepada taghut (materi). Perut mereka lapar dan tenggorokan mereka kehausan akibat puasa (shaum), namun mulut mereka menebar najis. Hati dan pikiran mereka mengembara kemana-mana, tidak sedikitpun tertuju pada Allah SWT. Harta benda yang mereka miliki diperoleh secara tidak halal. Saat mereka membagi-bagikan zakat, sadaqah dan infak tidaklah diniatkan untuk mendapatkan  ridho Allah SWT, tetapi dengan tujuan utama mencari  pujian dan kemasyhuran duniawi.”
Sang menteri masih tidak mau mengakui kesalahannya, maka dia berdalih lagi. “Tapi perlu tuan kyai ketahui bahwa saya juga sudah membangun banyak Masjid dan Musholla dimana-mana, nah apa hal itu kurang cukup untuk meyakinkan saya sendiri bahwa saya tidak termasuk manusia yang dimurkai Allah SWT? Bukankah itu merupakan amal dan ibadah juga?” Sambil tetap tersenyum sang kyai Mbethik menjawab, “tuan  menteri, jangan tuan sekali-kali memanusiakan Tuhan dan menTuhankan manusia, kalau tuan berpendapat demikian berarti tuan telah memanusiakan Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan tidak bisa disuap seperti manusia, Tuhan maha tahu segala amal dan perbuatan makhluk-Nya. Tuan mendirikan Masjid dan Musholla serta beribadah yang lain bukan karena hati nurani tuan yang bicara, bukan karena ikhlas tuan melakukannya, tapi semata-mata agar tuan tidak masuk neraka dan otomatis masuk surga dan agar disanjung serta dipuji orang lain. Saya mau bertanya kepada tuan menteri, bagaimana jika surga dan neraka itu tidak ada? Apakah tuan masih beribadah sesuai dengan perintah Allah serta masih mau mendirikan Masjid dan Musholla?” Sang menteri tidak bisa menjawab dan dengan muka lesu dia kembali ke duduk ke kursinya.
Melihat sang menteri tidak bisa menjawab pertanyaannya, sang kyai Mbethik kembali berbicara, ”saya tidak pernah menyalahkan orang yang melakukan ibadah, tapi seharusnya ibadah itu dilakukan karena semata-mata rasa terima kasih kita kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan begitu banyak kenikmatan dan kebahagiaan di dunia ini serta semata-mata kita mengharapkan ridho Allah SWT. Tidak ada pamrih yang menyertai ibadah kita. Insya Allah jika kita dekat dengan-Nya maka Allah akan memberikan banyak kenikmatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.”
Sang wakil raja Cingkarabala berdiri dan bertanya, “lalu bagaimana dengan pengertiannya menTuhankan manusia?”
Kyai Mbethik menjawab, “ menTuhankan manusia berarti menganggap manusia lain seolah-olah Tuhan. Manusia dilarang untuk menyembah kepada sesuatu selain Allah SWT, Allah maha segalanya. Manusia dilarang untuk memuja-muja manusia lain, apalagi secara berlebihan. Dan hal itu sudah sering dilakukan di negeri dongeng ini. Seorang raja dan pejabat kerajaan dihormati dan disembah secara berlebihan, mereka lebih takut kepada raja daripada takut kepada Allah. Mereka takut melakukan pelanggaran-pelanggaran karena  takut akan hukuman dari raja, bukan takut kepada azab Allah. Mereka rela melakukan apa saja demi sang raja, tetapi kalau untuk melaksanakan perintah Allah, mereka masih ragu-ragu bahkan banyak yang akhirnya tidak melakukannya. Mereka jika dipanggil raja pasti akan hadir secepat mungkin dan tidak pernah berani membangkang, tetapi kalau panggilan untuk beribadah kepada Allah berupa Adzan yang dikumandangkan di Masjid-masjid dan Musholla-musholla, mereka tidak secepat mungkin untuk pergi ke masjid atau secepat mungkin untuk mengambil air wudhu dan sembahyang. Apakah itu semua tidak terbalik? Ingatlah bahwa Allah itu juga maha pencemburu, Dia tidak suka kepada umatnya yang lebih mementingkan urusan duniawi daripada beribadah dan menyembahnya. Maka sudah selayaknya kita berkaca di depan cermin, cermin yang bersih, bukan yang buram, maka kita akan tahu seberapa pantaskah kita disebut dengan manusia beriman? Dan sebagai muslim, kita harus menerapkan ajaran islam yaitu tentang kesabaran, kerelaan (ridho), keadilan (‘adl), keikhlasan, pengorbanan (qurb), kerukunan (ukhuwah), tawakal, sederhana (qana’ah) dan rendah hati (tawadhu’).”
“Bagaimana tuan-tuan, apakah ada yang belum mengerti dan mau bertanya?”, ucap kyai Mbethik.
Seorang hadirin yang duduk di sebelah kiri depan, tiba-tiba berdiri dan berkata,”tuan kyai, menurut tuan bagaimana cara mengatasi masalah wabah penyakit serta wabah kesurupan di negeri dongeng ini? Saya sebagai menteri kesehatan dan kesetanan /kesurupan (MENKESET) padahal saya sudah melakukan banyak pencegahan dan pengobatan agar penyakit-penyakit tersebut tidak mewabah atau menular.”
“Terima kasih atas pertanyaan tuan menkeset, menurut saya, pertama, semua itu terjadi karena kesalahan-kesalahan manusia yang membuat murka Allah SWT, seperti uraian saya tadi. Kedua, kurang tanggapnya kerajaan terhadap timbulnya gejala-gejala penyakit. Kebiasaan di negeri dongeng ini adalah bila sudah terdapat korban, itupun juga bila  sudah banyak, maka barulah ada tindakan atau penanganan. Ketiga, tingkat kesulitan rakyat di negeri dongeng ini untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Bagaimana mungkin rakyat bisa mendapatkan gizi yang baik bila mereka beranggapan bisa makan saja sudah bagus. Mereka hanya berpikir yang penting kenyang. Tetapi hal itu juga dikarenakan kesulitan mereka untuk mencari rejeki, mereka tidak mampu membeli makanan yang bergizi. Keempat, terlalu tingginya biaya untuk sehat, baik itu harga obat yang mesti mereka tebus dan biaya rumah sakit yang mirip harga menginap di hotel berbintang. Dan yang terakhir yaitu kelima, kebandelan dan kekurang ajaran orang-orang yang tega memanfaatkan kesulitan-kesulitan dengan mencari untung sebesar-besarnya. Contohnya, orang yang tega menjual ayam dan burung yang sudah mati, membuang limbah dan sampah sembarangan, dan lain-lainnya.”
Sang kyai Mbethik melihat kuping sang raja, wakil raja, penasehat dan hadirin yang lain sudah mulai gosong, karena kepanasan. Lalu dia melanjutkan, “mengenai masalah kesurupan yang sering terjadi di negeri dongeng ini, menurut saya adalah merupakan sesuatu hal yang biasa, sama sekali tidak luar biasa.” Sang penasehat memotong, “tapi kesurupan itu melanda negeri ini berulang-ulang dan diberbagai tempat kejadiannya, bukankah hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa? Kenapa kamu bilang ini biasa saja? Atau jangan–jangan kamu yang membuat mereka semua kesurupan?”
Sang kyai Mbethik hanya tersenyum dituduh begitu oleh sang penasehat. Dengan tetap tersenyum dia menjawab, “kalau saya bisa membuat orang seseorang kesurupan, maka tuan raja, wakil raja dan penasehatlah yang pertama-tama saya bikin kesurupan.” Muka sang Denawa, Cingkarabala dan Togog langsung merah menahan marah. Hal itu membuat para hadirin khawatir, karena setelah kuping sang raja, wakil raja dan penasehat gosong, jangan-jangan sebentar lagi muka mereka juga akan gosong.
Sang kyai Mbethik melanjutkan, “sungguh telah berbilang tahun dan abad masyarakat di negeri dongeng ini percaya bahwa ruh-ruh setan penghuni tempat-tempat angker yang berbahaya bagi manusia. Mereka meyakini kalau orang-orang yang kesurupan itu sedang dirasuki oleh ruh setan penghuni pohon, sungai, gunung, laut, bangunan kuno dan kuburan. Padahal, apa yang mereka yakini itu hakikatnya adalah dunia khayali yang mereka bangun sendiri dengan prasangka-prasangka kosong. Yang mereka yakini adalah dunia angan-angan yang mengada karena kuatnya daya cipta mereka sendiri.”
“Ketahuilah bahwa sejak awal zaman ketika manusia diciptakan Allah SWT, di dalam diri manusia sudah terkumpul berbagai anasir mulai yang Ilahi, malakut, setani, manusiawi sampai hewani. Itu sebabnya, anasir setani, yang membuat seseorang kesurupan, sejatinya bukanlah anasir yang berasal dari luar diri manusia. Setan-setan yang merasuki bukanlah ruh-ruh gentayangan penghuni tempat-tempat angker. Sebab sejatinya, anasir-anasir setani itu sudah ada dalam diri manusia sejak awal zaman. Anasir setani itu mengalir bersama aliran darah manusia. Setan ada di dalam tubuh manusia. Setan itulah yang membuat was-was hati manusia dan mendorong-dorong serta membujuk manusia untuk menekuk kaki, tubuh dan kepala manusia agar bersujud kepada selain Allah. Setan di dalam diri manusia itulah yang telah membuat lengah manusia dengan menunjuk keberadaan bayangan dirinya yang seolah-olah bersemayam di pohon-pohon, sungai-sungai, gunung-gunung, laut, bangunan-bangunan kuno dan kuburan-kuburan. Setiap orang yang terperdaya oleh bujukannya akan mengikuti bisikannya sehingga mereka tidak mengetahui dimana sejatinya ruh setani itu berada.”
“Kiblat kebenaran yang sejati ada di dalam kalbu manusia. Dengan kiblat yang benar, manusia akan menjadi penakluk segala ciptaan, karena manusia adalah wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Maka mulai sekarang hendaknya manusia jangan lagi takut terhadap bayangan setan yang akan menggiring kiblat hati dan pikiran manusia dari jalan kebenaran.”
Sang penasehat bengong, melongo dengan mulut menganga dan sedikit ngiler, mendengar penjelasan sang kyai Mbethik. Sedang sang raja Denawa dan sang wakil raja Cingkarabala hanya menggaruk-garuk kepala tanda belum mengerti penjelasan sang kyai. Sang kyai Mbethik maklum akan ketidak pahaman mereka, karena selama ini hati dan pikiran mereka lebih banyak tertuju kepada materi (taghut).
“Sebagai wakil Allah di muka bumi, manusia akan bisa menjadi penakluk setan yang selama ini ditakuti,” ucap sang kyai. “Bagaimana caranya?”, tanya sang menkeset.
“Begini, mula-mula arahkan kiblat kesadaran kita ke dalam kesadaran kita sendiri. Renungkan, rasakan, resapi dan hayati keberadaan anasir setani yang bersembunyi di dalam diri kita. Sebab setan yang berada di dalam diri kita itulah setan yang sejati, bukan bayangannya yang menciptakan angan-angan kosong di luar diri kita. Renungkan, rasakan, resapi dan hayati keberadaan anasir setani di dalam diri kita yang panas membakar laksana api yang darinya setan dicipta. Renungkan, rasakan, resapi dan hayati anasir api yang mengobarkan sifat takabur, iri, dengki, amarah, cemburu dan dendam kesumat dalam diri kita yang salah satu gerbangnya terletak pada indera pendengaran kita. Jika kita telah mengetahui dan menangkap keberadaan setan beserta sifat-sifat dan af’alnya di dalam diri kita masing-masing, maka mudahlah bagi kita untuk menaklukkannya. Sebab bagaimanapun rapi setan menyembunyikan diri, kita telah mengetahui jati dirinya. Itulah yang aku sebut dengan kemenangan menaklukkan setan. Karena setan tidak berdaya menghadapi orang-orang yang sudah mengetahui dan mengenal jati dirinya,” sang kyai Mbethik menjawab panjang lebar.
Sang menkeset mengangguk-angguk seolah-olah mengerti, padahal sumpah mati dia tidak paham apa yang dijabarkan kyai Mbethik, malah dia menganggap uraian dari sang kyai bagaikan dongeng pengantar tidur belaka. Sedangkan sang penasehat Togog merasa ditampar mukanya dengan uraian sang kyai tadi. Karena selama  ini dia merasa menjadi orang yang paling pintar se-negeri dongeng, tiba-tiba sekarang muncul seorang pemuda yang membuat dia seolah-olah menjadi orang paling bodoh di negeri dongeng. Semua uraian dari sang kyai bertolak belakang dengan nasehat dan uraian yang dia jabarkan tadi. Sang Togog melirik ke arah raja Denawa dan wakil raja Cingkarabala,  mereka saling memberi kode, kemudian dia bertanya kepada sang kyai, “siapa sebenarnya engkau ini? Darimana asalmu? Siapa gurumu? dan darimana engkau mendapat keberanian mengungkapkan semua ini di depan kita-kita yang menjadi penguasa dan pejabat kerajaan?”
“Siapa nama saya tentu hadirin sudah tahu karena sudah saya sebutkan nama saya tadi. Asal saya juga sudah saya sebutkan tadi. Guru? Saya tidak punya guru, karena yang menjadi panutan dan teladan saya adalah Rasullullah Muhammad Saw. Saya mendapatkan keberanian karena saya sangat meyakini dan mengamalkan sabda Rasul Saw, yaitu qul al haqq walau kanaa muran, katakan kebenaran itu sekalipun pahit.”
Tiba-tiba muncul pengawal kerajaan sambil terengah-engah, “ma.., maafkan saya baginda raja, di luar banyak sekali orang yang memaksa masuk ke Istana, mereka berteriak-teriak dan berusaha menerobos barisan penjaga.”
“Siapa mereka?”, tanya sang raja.
“Mereka adalah para pengungsi korban gunung chandrageni yang meletus, serta korban banjir banding,” jawab pengawal.
Sang raja Denawa melirik ke sang kyai Mbethik, lalu bertanya, ”menurutmu apa yang harus kita lakukan?”
Sang kyai menjawab dengan tegas, “bantu mereka semua, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali mereka kita bantu, bantu dan sekali lagi bantu.”

Kyai Mbethik

Artikel Asli Dari SISWA TKJ | Karawang: Cerpen
Di www.siswatkj.co.cc

 
SEKARANG TAHU
Blogger Desain by Medan Jasa | Powered by Blogger.com